.
Tampilkan postingan dengan label petuah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label petuah. Tampilkan semua postingan
26 Mei 2013
Label:
budaya,
eksplorasi,
isi surakarta,
jejak,
laboratorasi,
panggung,
petuah,
pusaka,
reguler,
reportoar,
sanggar,
sastra,
seni,
surakarta,
teater,
tutur
Tanggal 5 november 1992 adalah awal
bagi Teater Jejak untuk menjejakkan kakinya di atas panggung perteateran di
Surakarta. Kegelisahan-kegelisahan yang senantiasa muncul menjadi suatu embrio
yang mendasari semangat berteater . Pun energi yang luar biasa dari beberapa
mahasiswa di ISI Surakarta ( kala itu masih bernama STSI Surakarta, tercatat beberapa
nama perintis : Helmi, Heru Prasetya,
Suroto Pincuk, Tri Bowo Kadal, Aryo BG, Chrisnyar, Esha Kardus, Hari Sinthu,
Nurhadi Gigol, Kanizhar Chan, Erna Handayani Rining, dan Ista BP ) berhasil
membentuk pondasi yang kokoh untuk diwariskan, agar dapat didirikan bangunan
yang berarti pula tentunya.
Sejak memanggungkan “Mood” karya
Kanizhar Chan ( naskah pertama yang digarap) sampai 2 Dasawarsa perjalanannya,
Teater Jejak telah berhasil mementaskan 90-an karya, baik dari teater jejak
sendiri maupun hasil tulisan orang lain. Tidak adanya keharusan terhadap bentuk
garap maupun gaya khas terhadap setiap karya yang dipentaskan, sudah merupakan
suatu keterbukaan pada ritme regenerasi Teater Jejak yang mampu diwujudkan. Dan
bingkai yang digunakan juga sangatlah berdasar pada bagaimana pemahaman
eksplorasi dari tiap individu yang berkarya. Dan memang pada akhirnya ada
sesuatu yang harus senantiasa di pahami, sebuah totalitas berteater dan upaya
menjaga intensitas. Berbagai benturan merupakan sesuatu yang wajar. Terus
mengalir dan biar berbenturan, menyatu dengan peristiwa yang berarti untuk
dialiri atau berbelok dari suatu yang menghambat dan membuat kita mandeg.
Meskipun beberapa waktu yang lalu Teater Jejak sempat dikatakan berjalan
ditempat, hal tersebut merupakan bagian dari proses pertumbuhan pada sebuah
kelompok yang ingin terus tumbuh berkembang dan masih berusaha untuk
beraktifitas sesuai dengan gaya dan kemampuan yang ada. Sebab eksistensi tanpa
aktifitas hanya akan sekedar esensi nihil.
info ;
teater jejak isi surakarta, mulai saat ini menggunakan nama " UKM Jejak ISI Surakarta "
teater jejak isi surakarta, mulai saat ini menggunakan nama " UKM Jejak ISI Surakarta "
SALAM BUDAYA
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ruang Tutur
Kemarin malam, sekitar pukul 19.30 hari sabtu, 16 Maret 2013 di loby bawah gedung F ISI Suarakarta di gelar sebuah acara diskusi atau lebih tepatnya lagi pengajian sastra bertajuk PUSAKA # 7 (Puja Sastra Surakarta). Acara regular setiap bulan ganjil dari sebuah kelompok Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) sanggar Jejak yang mencoba memasuki dunia sastra secara luas untuk kebutuhan pembelajaran di lingkungan kelompok maupun di luar kelompok. Acara ini sudah 7 kali diadakan setiap bulan ganjil. Sedikit mengulas perjalanan PUSAKA, bahwa acara ini sudah mengangkat tema sastra dari sudut pandang yang beragam dan dari disiplin ilmu yang berhubungan. Tema yang sudah pernah diangkat diantaranya kajian puisi, sastra pertunjukan, bedah cerpen, bedah naskah, sastra rupa dan yang baru saja diangkat adalah sastra dalam beragam petuah leluhur yang bertajuk “Petuah, Petatah dan petitih”. Keseluruhan rangkaian PUSAKA yang telah dilalui setidaknya memberi sumbangan berupa wawasan bagi setiap individu yang berada di lingkungan UKM Sanggar Jejak, dan berharap juga bermanfaat untuk publik umum yang sudah meluangkan waktu untuk hadir dalam acara tersebut. Kritik saran atas acara ini pernah kami buka pada saat PUSAKA #6 yang bertajuk “APA DI DALAM TEKS DRAMA” dengan pembicara pada waktu itu adalah seniman teater bpk Gigok Anurogo. Masukan dan kritik yang kami terima pada waktu itu pada intinya adalah masalah publikasi acara, karena acara PUSAKA yang telah kami lampaui, audiens yang hadir dalam acara tersebut bisa dikatakan tidak memenuhi ruang yang di sediakan. Menelisik acara sastra maupun diskusi sastra yang pernah diadakan oleh instansi kebudayaan, ruang-ruang pertunjukan, ruang seminar, bahkan ruang instansi pendidikan pun audiens atau pengunjung yang datang bisa dihitung dengan jari. Selain acara diskusi sastra, pun pertunjukan kesenian tari, musik, teater dan lain-lain yang ditutup dengan acara diskusi, sebagian pengunjung hanya memilih untuk menikmati keindahan pertunjukan tersebut saja. Melihat fenomena tersebut PUSAKA yang menjadi program regular UKM Sanggar Jejak ISI Surakarta selalu membuka saran dan masukan terhadap acara ini, paling tidak harapan sederhana PUSAKA ini bisa menjalin komunikasi dengan masyarakat civitas akademik ISI Surakarta dan masyarakat seni dan publik secara umum. Ketika komunikasi terjalin dengan baik maka pertukaran dan saling berbagi wacana pengetahuan bisa terjalin di acara PUSAKA ini.
Media Tutur
Tidak
dipungkiri dan memang disadari bahwa ruang tutur atau diskusi, sebagian orang
menganggap sesuatu yang mengerikan dan membosankan karena didalamnya sering
terjadi adu argumen, lempar kesalahan, perang konsep sampai mulut berbusa.
Ruang-ruang dan aktifitas
diskusi (atau bisa boleh saya
sebut ruang tutur)
pada dasarnya bukan aktifivitas saling menjatuhkan bahkan adu konsep dan
pemikiran yang berujung pada sebuah penghakiman.
Kegiatan diskusi yang bernasib seperti itu malah sering saya
jumpai di bidang kesenian. Ada apa dengan ruang tutur kesenian kita ? atau ada
apa dengan tutur kita sehingga mengorbankan sisi keindahan dalam sebuah seni?
Budaya
tutur atau lisan
sebenarnya merupakan media yang efektif bagi kesenian budaya local. Terbukti
kesenian budaya Nusantara lahir dan berkembang dari budaya lisan dan tutur.
Kebudayaan lisan
dan tutur yang sudah ada di Nusantara sejak waktu lampau sekiranya telah bergeser makna ketika
dihadapkan dengan ruang diskusi yang sering diadakan di berbagai acara
kesenian. Budaya lisan
yang harusnya disitu terjalin komunikasi antar penyaji dan pengamat kini berubah
menjadi budaya perang idealisme yang tak berujung.
Berbicara tentang kesenian,
sebenarnya bukan untuk mencari mana yang benar dan mana yang salah, tapi
mencari makna dan esensi yang nantinya akan berguna bagi aktifitas kehidupan di panggung maupun di luar panggung.
Penyaji sebuah kesenian dalam bentuk apapun
pasti mempunyai maksud dan tujuan tersendiri, entah untuk kebutuhan
ekspresi, eksistensi atau media hiburan mapun pendidikan. Lewat kesenian
yang dihadirkan atau dipertunjukan seniman atau pelaku seni akan berbicara
banyak lewat karyanya.
Dari karya itulah sebuah
komunikasi terjalin antara seniman dan penonton
atau penghayat. Lalu seberapa besar fungsi ruang diskusi atau ruang tutur
ketika seniman sudah bicara banyak lewat karyanya ? Di sinilah akhirnya fungsi
kriktik seni diperlukan. Kritik seni dalam hal ini bukan berarti mengkritik habis-habisan lalu
mencari kesalahan, tapi fungsi kritik seni
lebih menjembatani antara seniman dan pengamat secara keseluruhan atau holistik.
Lewat media tutur dan diskusi akan mempermudah fungsi kritik seni bisa
berjalan. Pengamat akan lebih paham latar belakang seniman, proses
penciptaannya dan latar belakang karya itu dibuat. Pengamat lebih faham secara
mendalam dan akan mendapatkan pengalaman seni selain melihat karya yaitu dengan
ruang diskusi dan tutur.
ditulis oleh Damar Tri Afrianto
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Langganan:
Postingan (Atom)


